Selasa, 19 April 2016
Kamis, 14 April 2016
BAHASA INGGRIS
Past Future
Continuous Tense
Jadi, rumus yang digunakan untuk membuat Passive Voice dalam Past Future
Continuous Tense adalah sebagai berikut :
S + Would Be Being + V3
Contoh pembuatan kalimat Passive Voice dalam bentuk positive :
Active :
§
They would be learning English when you came.
§
She would be listening to the music when the phone
rang
§
He would be visiting his family
Passive :
English would be being learned by them when you came.
English would be being learned by them when you came.
§
The music would be being listened by her when the
phone rang
§
His family would be being visited by him
Past Perfect Tense
Seperti active voice, main verbpassive past
perfect tensejuga berupa past participle dan
diawali auxiliary verb “had”. Bedanya, passive
past perfect tense mendapatkan tambahan auxiliary verb “been”.
Had digunakan untuk subject pada passive
voice (= object pada active voice) apapun. Adapun agent pada passive
voice merupakan subject pada active voice.
Berikut rumus passive voice dalam past
perfect tense:
|
Active Voice
|
Passive Voice
|
|
S + had +
past participle + direct object
|
S (direct
object) + had + been + past participle +/- by … (agent)
|
Rumus di atas berlaku untuk transitive verb, dimana
memang kata kerja tersebut yang umum dipasifkan.
Contoh Kalimat Passive Voice in
Past Perfect Tense
|
No.
|
Active Voice
|
Passive Voice
|
|
1
|
They had
used poison gas in World War I.
(Mereka telah menggunakan gas beracun dalam perang dunia pertama.) |
Poison
gas had been used in World War I.
(Gas beracun telah digunakan dalam perang dunia pertama.) |
|
2
|
Sally had
read two hundred books before graduating from the college.
(Sally telah membaca dua ratus buku sebelum lulus dari kampus tersebut.) |
Two
hundred books had been read by Sally before graduating from
the college.
(Dua ratus buku telah dibaca oleh Sally sebelum lulus dari kampus tersebut.) |
|
3
|
He had
helped you so many times.
(Dia telah membantumu berkali-kali.) |
You had
been helped so many times.
(Kamu telah dibantu berkali-kali.) |
Past Future Tense
Jadi, rumus yang digunakan untuk membuat Passive Voice dalam Past Future
Tense adalah sebagai berikut :
S + Would Be + V3
Contoh pembuatan kalimat Passive Voice dalam bentuk positive :
Active :
§
They would learn English.
§
We would buy a dictionary
§
He would visit his family
Passive :
§
English would be learned by them.
§
A dictionary would be bought by us
§
His family would be visited by him
Rabu, 13 April 2016
SKRIPSI, TESIS, DISERTASI
DISERTASI
MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
SEBAGAI PEMBANGUN KARAKTER
(Penelitian pada Beberapa Sekolah Dasar di Kota Semarang)
Masrukhi. 2008.
Disertasi Program
Studi Manajemen Pendidikan. Program
Pascasarjana,
Universitas Negeri Semarang. Promotor: Almh. Prof.
DR. Hj. Retno
Sriningsih Satmoko, Kopromotor : Prof. Mursid Saleh,
Ph.D, dan anggota :
Prof. Dr. Fathur Rokhman, M. Hum
ABSTRAK
Kata Kunci : manajemen
pembelajaran, pembangunan karakter, good citizenship.
Setiap bangsa akan
mengakui pentingnya pembangunan karakter (Character Building) dalam
rangka memelihara dan mempertahankan eksistensi sebagai suatu negara-bangsa
(nation-state). Proses pembangunan karakter memerlukan waktu yang panjang dan
sepanjang hayat. Wahana yang paling strategis untuk melakukan proses
pembangunan karakter adalah pendidikan di sekolah, melalui proses
pembelajarannya di kelas. Tujuan penelitian adalah membangun model pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan yang fit di sekolah dasar, melalui kajian
empirik dan komprehensif pada semua komponen yang terkait dengan konfigurasi
proses manajemen yang berlangsung pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
di kelas yang bermuatan pembangunan karakter, untuk kemudian ditemukan faktor determinannya.
Penelitian dilakukan pada 89 SD di 16 kecamatan se Kota Semarang, dengan
responden sebanyak 200 orang guru sekolah dasar, pengampu mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan. Data dijaring melalui angket skala berstruktur.
Data yang terkumpul dianalisis melalui analisis SEM dengan menggunakan
perangkat LISREL. Penelitian ini menemukan beberapa hal. Pertama model
konfigurasi yang dibangun dari variable laten eksogen berupa apresiasi guru,
kepemimpinan kepala sekolah, kultur sekolah, rancangan pembelajaran dan
variable laten endogen berupa pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bermuatan
Pembangunan Karakter di sekolah dasar di Kota Semarang, menunjukkan model yang
fit, didasarkan pada temuan nilai Chi-Square sebesar 23,22 dan p-valuenya
sebesar 0,0871. Kedua, pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang
bermuatan pembangunan karakter, lebih banyak terbangun oleh kultur sekolah dan kepemimpinan
kepala sekolah, tercermin pada koefisien korelasi pada variabel laten eksogen
adalah masing-masing 0,58 dan 0,25. sedangkan variable laten eksogen berupa
apresiasi guru dan kepemimpinan kepala sekolah yang menunjukkan koefisien jalur
masing-masing 0,15 dan 0,24. Kontribusi secara langsung faktor-faktor
determinan dalam manajemen pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sebagai pembangun
karakter, ditunjukkan dengan koefisien determinasi pada apresiasi guru sebesar
2.24% ; pada kepemimpinan kepala sekolah sebesar 5,76% ; pada kultur sekolah
sebesar 33,64%.
Penelitian ini
merekomendasikan beberapa hal. Pertama, perlu upaya peningkatan
pemahaman guru PKn sekolah dasar mengenai Pembangunan Karakter, melalui
kegiatan yang sirnergis antara pihak dinas pendidikan sebagai fasilitator,
perguruan tinggi sebagai pengembang materi, dengan memberdayakan
kelembagaan yang ada
dan berkembang pada komunitas guru sekolah dasar seperti Kelompok Kerja Guru
(KKG), organisasi profesi, dan sejenisnya. Kedua,
perlu dilakukan upaya
fasilitasi penyusunan contoh-contoh atau model-model rancangan pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan yang bermuatan Pembangunan Karakter, pada
para guru di sekolah dasar, dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Ketiga,
perlu dilakukan pendekatan struktur, pemberdayaan kepala sekolah untuk
memfasilitasi dan memotivasi guru Pendidikan Kewarganegaraan dalam upaya
pembelajaran Pembangunan Karakter
di kelas, yang
dilakukan melalui melalui pertemuan-pertemuan Kelompok Kerja
Kepala Sekolah (KKKS).
Keempat, perlu dilakukan pemberdayaan kultur sekolah
guna menunjang
pembelajaran bermuatan Pembangunan Karakter di kelas PKn, melalui penguatan
kegiatan ekstra kurikuler yang dapat diciptakan dan dikembangkan oleh guru
Pendidikan Kewarganegaraan dengan memberdayakan potensi-potensi lokal yang
mengandung nilai-nilai luhur seperti permainan tradisional, volklor, dongeng,
pantun, kata-kata mutiara, symbol-simbol, dan sebagainya, yang mengandung local
wisdom.
1)
Metode
penelitian
Pendekatan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan rancangan
non eksperimen. Jika dilihat dari tujuannya penelitian ini bersifat terapan,
karena hal-hal yang digunakan berdasarkan teori-teori yang telah ada
sebelumnya. Bila dilihat dari pendekatannya termasuk survey, karena data yang
dipelajari adalah dari sampel yang diambil dari populasi. Sedangkan jika
dilihat dari kejadiannya penelitian ini bersifat expost facto, sebab
yang diteliti adalah peristiwa yang telah terjadi atau berjalan, yaitu berupa
pemahaman, penghayatan, sikap dan perilaku guru Pendidikan Kewarganegaraan di
sekolah dasar mengenai character building, muatan pembangunan karakter
yang terdapat dalam bahan ajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di
sekolah dasar, pesan-pesan pembangunan karakter yang terintegrasikan dalam
metode yang digunakan guru pada proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
di sekolah dasar, serta pesan155 pesan pembangunan karakter yang
terintegrasikan dalam suasana pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di
sekolah dasar. Model analisis regresi digunakan dalam penelitian ini. Penetapan
model ini didasarkan atas pertimbangan bahwa variabel-variabel yang diteliti
memiliki hubungan yang bersifat fungsional. Hubungan yang dimaksudkan dalam
penelitian ini adalah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.
2)
Manfaat Penelitian
Kegunaan
Teoritis
Secara
substantif keilmuan, hasil penelitian ini sangat bermanfaat dalam membangkitkan
kembali semangat pembangunan karakter melalui proses pembelajaran di dalam
kelas, melalui analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses
pembelajaran secara akurat. Hal ini sangat penting mengingat penanaman nilai
melalui proses pembelajaran di kelas, akan dipengaruhi juga oleh budaya yang
berkembang di lingkungan sekolah. Di sisi lain, lingkungan pendidikan sekolah
dasar memiliki makna yang sangat strategis bagi
pembinaan karakter bangsa sejak
dini, mengingat pada tingkat pendidikan
sekolah dasar peserta didik
mengawali perkenalan dengan pembinaan nilai
secara sistematis. (signifikansi
teoritis).
Kegunaan
Praktis
Hasil penelitian
ini pun memberikan kontribusi yang signifikan bagi pemerintah dalam
mengembangkan kembali di tengah-tengah masyarakat akan pentingnya pembangunan
karakter dalam khazanah pembangunan nasional, guna mengantisipasi ekses negatif
dari kehiupan global. Sudah tentu kontribusi ini terbatas pada pembinaan
karakter bangsa pada peserta didik melalui proses pembelajaran di kelas. Dari
temuan dan produk penelitian ini pemerintah dalam hal ini adalah Departemen
Pendidikan Nasional dapat mengambil kebijakan lebih lanjut mengenai upaya
pembangunan karakter melalui proses pembelajaran di sekolah dasar (signifikansi
praktis).
3)
Hasil Penelitian
Penelitian ini mengambil responden
sebanyak 200 orang guru pada 89 SD di 16 kecamatan se-Kota Semarang yang
terdiri atas 68 orang guru laki-laki dan 132 orang guru perempuan. Berdasarkan
tingkat pendidikan, responden umumnya berpendidikan D2 PGSD sebanyak 120 orang
(60%), ada yang berpendidikan Sarjana S1 sebanyak 70 orang (35%), namun masih
ada pula yang berpendidikan SPG/PGA sebanyak 10 orang (5%). Masa kerja guru SD
umumnya berkisar antara 10 s.d. 20 tahun sebanyak 110 orang (55%), bahkan ada
yang telah lebih dari 20 tahun sebanyak 30 orang (15%), guru yang masa kerjanya
5 s.d. 10 tahun sebanyak 40 orang (20%), dan guru yang masa kerjanya kurang
dari lima tahun sebanyak 20 orang (10%).
4)
Sistematika
1.
Bagian awal disertasi terdiri dari halaman judul, halaman
pengesahan, halaman motto dan persembahan, sari, kata pengantar, daftar
isi,daftar gambar, daftar tabel, dan daftar lampiran.
2.
Bagian isi skripsi terdiri dari lima bab yaitu:
–
BAB I : Pendahuluan, dalam hal ini penulis menguraikan
tentang latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat penelitian, penegasan
istilah, dan sistematika skripsi.
–
BAB II : Landasan teori, yaitu bab yang menguraikan tentang
kajian pustaka baik dari buku-buku ilmiah, maupun sumber-sumber lain yang
mendukung penelitian ini.
–
BAB III : Metodologi penelitian, yaitu bab yang menguraikan
tentang objek penelitian, variabel, metode penelitian, metode pengumpulan data,
dan metode analisis data.
–
BAB IV : Hasil penelitian dan pembahasan, yaitu bab yang
menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan dari data yang telah
diperoleh.
–
BAB V : Penutup terdiri dari simpulan dan saran, yaitu bab
yang berisi simpulan hasil dan saran serta hasil penelitian.
3.
Bagian akhir skripsi: terdiri dari daftar pustaka dan
lampiran.
5)
Kesimpulan
Simpulan Atas dasar temuan-temuan
empiris dari penelitian ini, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut.
1. Apresiasi
guru Pendidikan Kewarganegaraan mengenai Character Building berada pada
taraf sedang. Dari tiga variabel manifes yang membangun apresiasi guru, hanya
kognisilah yang berada padam kualifikasi rendah. Sedangkan dua variabel manifes
lainnya yaitu berupa afeksi dan konasi mengenai Character Building berada
pada kualifikasi sedang.
2.
Apresiasi guru Pendidikan
Kewarganegaraan mengenai Character Building memberikan kontribusi
terhadap pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah sebagai pembangun
karakter, yaitu sebesar 2,24%, Variabel manifes eksogen yang memberikan kontribusi
terbesar tercermin pada koefisien jalur antara apresiasi guru tentang Character
262 Building dan variable observer adalah afektif sebesar 1,14 dan
konasi sebesar 0,90.
3.
Kepemimpinan kepala sekolah dalam
mendukung proses pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di
sekolah memberikan kontribusi positif dan signifikan terhadap pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah sebagai pembangun karakter 5,76%. Variabel
manifes eksogen yang memberikan kontribusi terbesar tercermin pada koefisien
jalur antara kepemimpinan kepala sekolah tentang Character Building dan
variable observer adalah pembinaan sebesar 0,84 dan fasilitasi kepala sekolah
sebesar 0,61.
4.
Kultur sekolah dalam mendukung proses
pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah mempunyai
kontribusi positif dan signifikan terhadap pemebelajaran pendidikan
kewarganegaraan sebagai pembangun karakter sebesar 33,64%. Variabel manifes
eksogen yang memberikan kontribusi terbesar tercermin pada koefisien jalur antara
kultur sekolah sekolah tentang Character Building dan variabel observer
adalah kebiasaan sebesar 0,78 dan sikap hidup sebesar 0,88.
5.
Rancangan pembelajaran sebagai pesan
sebagai pembangunan karakter terintegrasikan dalam rancangan pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan berkontribusi secara postitif dan signifikan
terhadap pembelajaran pendidikan kewarganegaraan sebesar 6,25%. Variabel manifes
eksogen yang memberikan kontribusi terbesar tercermin pada koefisien jalur
antara rancangan pembelajaran di sekolah tentang 263 Character Building dan
variabel observer adalah media sebesar 1,17 dan bahan ajar sebesar 1,24.
6.
Kontribusi apresiasi guru, kepemimpinan
kepala sekolah, kultur sekolah, dan rancangan pembelajaran dalam membentuk
proses pembelajaran yang berperspektif pembangunan karakter pada Pendidikan Kewarganegaraan
di sekolah dasar sebesar 47,89%. Model konfigurasi yang dibangun dari variable
laten eksogen berupa apresiasi guru, kepemimpinan kepala sekolah, kultur
sekolah, rancangan pembelajaran dan variable laten endogen berupa pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan bermuatan pembangunan karakter di sekolah dasar di Kota
Semarang, menunjukkan model yang fit, didasarkan pada temuan nilai Chi-Square
sebesar 23,22 dan p-valuenya sebesar 0,0871.
SKRIPSI, TESIS, DISERTASI
TESIS
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PERUBAHAN OLEH
KEPALA SEKOLAH
(Studi Deskriptif Kualitatif di Sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu
Selatan)
YENSI AFRIZA
Program Studi Magister Manajemen
Pendidikan, Program Pasca Sarjana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Bengkulu, Bengkulu 2013
ABSTRAK
Masalah umum penelitian
ini yaitu ”Bagaimana
Implementasi Manajemen Perubahan
oleh Kepala Sekolah
di SMA Muhammadiyah
Bengkulu
Selatan”. Rumusan Masalah
Khusus penelitian ini
yaitu “1)
Bagaimana implementasi manajemen
perubahan oleh kepala sekolah dalam pengambilan keputusan, 2) bagaimana
implementasi manajemen perubahan oleh kepala sekolah dibidang kurikulum, 3)
bagaimana implementasi manajemen perubahan oleh kepala sekolah di bidang
kesiswaan, 4) bagaimana implementasi manajemen perubahan oleh kepala sekolah di
bidang sarana pendidikan, 5) bagaimana implementasi manajemen perubahan oleh
kepala sekolah di bidang tenaga pendidik, 6) bagaimana implementasi manajemen
perubahan oleh kepala sekolah di bidang keuangan, 7) bagaimana implementasi
manajemen perubahan oleh kepala sekolah di bidang hubungan masyarakat?.
Tujuan umum penelitian
ini yaitu mendeskripsikan dengan jelas tentang implementasi manajemen perubahan
oleh kepala sekolah di SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan. Tujuan khusus
penelitian ini yaitu 1)
Mendeskripsikan
implementasi manajemen perubahan oleh kepala sekolah dalam pengambilan
keputusan, 2) mendeskripsikan implementasi manajemen perubahan oleh kepala
sekolah dibidang kurikulum, 3) mendeskripsikan implementasi manajemen perubahan
oleh kepala sekolah di bidang kesiswaan, 4) mendeskripsikan implementasi
manajemen perubahan oleh kepala sekolah di bidang sarana pendidikan, 5)
mendeskripsikan implementasi manajemen perubahan oleh kepala sekolah di bidang
tenaga pendidik, 6) mendeskripsikan implementasi manajemen perubahan oleh
kepala sekolah di bidang keuangan, 7) mendeskripsikan implementasi manajemen
perubahan oleh kepala sekolah di bidang hubungan masyarakat.
Metode penelitian dengan menggunakan
metode kualitatif. Subjek pada penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil
kepala sekolah bidang kurikulum, kesiswaan, sarana pendidikan, guru atau wali
kelas, guru pembina ekstra kulikuler, guru bimbingan dan konseling Sekolah
Menengah Atas Muhammadiyah Bengkulu Selatan. Penentuan kepala sekolah, wakil kepala
sekolah bidang kurikulum, kesiswaan, sarana pendidikan serta guru pengampu mata
pelajaran, sebagai subjek penelitian karena kepala sekolah, wakil kepala
sekolah bidang kesiswaan, kurikulum, sarana pendidikan, guru kelas, atau
orang-orang yang terlibat langsung dalam manajemen sekolah.
Hasil penelitian implementasi manajemen perubahan oleh
kepala sekolah di SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan adalah sebagai berikut :
Kesatu,
implementasi manajemen perubahan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu
Selatan dalam pengambilan kebijakan dan keputusan yaitu (1) pembuatan keputusan
melibatkan banyak pihak, seperti wakil-wakil kepala sekolah, guru, dan komite
sekolah, (2) pembuatan keputusan melalui gugus mutu terdiri dari guru-guru
senior secara keilmuan dan metodologi pembelajaran, anggota komite sekolah dari
kalangan pakar, tim pengendali manajemen pembelajaran, (3) keputusan sekolah
secara partisipatif.
Kedua, implementasi manajemen
perubahan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam
bidang kurikulum yaitu (1) terdapat suatu program pembelajaran yang sistematis
dan realistis, setiap guru mata pelajaran menyusun parangkat kegiatan belajar
mengajar sebelum permulaan tahun pelajaran, setiap guru mata pelajaran
menjabarkan kurikulum yang saat ini diterapkan dan mampu merakit dalam analisis
materi pelajaran, setiap guru merencanakan tes hasil belajar secara benar dan
berdaya guna dalam rangka membantu siswa dan meningkatkan sistem
administrasinya, (2) kegiatan belajar mengajar sesuai dengan silabus secara
cepat dan efektif, karena dikerjakan oleh para guru sesuai dengan waktu yang
ditentukan oleh pihak sekolah(3) setiap guru mata pelajaran menyusun perangkat
tes yang sempurna, setiap guru mampu melaksanakan evaluasi sesuai dengan
petunjuk yang berlaku, (4) setiap guru mengadministrasikan semua kegiatan
kurikulum dengan baik dan sistematis.
Ketiga, implementasi manajemen
perubahan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam
bidang kesiswaan yaitu (1) mempersiapkan sistem administrasi dengan menggunkan
komputerisasi yang meliputi beberapa kegiatan bidang kesiswaan antara lain :
sistem persiapan/persuratan, pencatatan buku induk siswa, pencatatan buku induk
pegawai, pengisisan buku mutasi siswa administrasi PSB, administrasi ujian
nasional, administrasi nilai/legger, laporan (PSB, ujian nasional, kenaikan
kelas, keberhasilan siswa), (2) meningkatkan peran serta siswa untuk menjaga
dan membina sekolah sebagai wiyata mandala, sehingga terhindar dari usaha
pengaruh yang bertentangan dengan norma yang berlaku, meningkatkan kegiatan
ekstrakulikuler dalam menunjang kegiatan kurikuler, meningkatkan apresiasi dan
penghayatan seni, menumbuhkan sikap berbangsa dan bernegara dan mengembangkan
semangat 1945.
Keempat, implementasi manajemen
perubahan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam
bidang sarana pendidikan yaitu (1) perangkat KBM difungsikan dan didayagunakan sesuai
dengan program yang direncanakan, (2) saran pendukung dimanfaatkan dengan
memaksimalkan sarana yang ada seperti wc guru/siswa dengan dibersihkan setiap
hari oleh siswa dengan pengaturan jadwal piket atau dibersihkan siswa yang
datang terlambat sebagai hukumannya, (3) pencatatan aset berupa sarana dan
prasarana pendidikan pada SMA Muhammadiya Bengkulu Selatan dengan cara
memberikan kode barang, pencatatan dalam buku
golongan, pencatatan dalam buku inventaris barang dan pem,belian aset.
Kelima, implementasi manajemen
perubahan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam
bidang tenaga pendidik yaitu (1) mengembangkan kesadaran akan tugas dan
tanggung jawab guru dengan cara setiap satu bulan sekali dilaksanakan rapat
koordinasi antara kepala sekolah, wakil-wakil kepala sekolah, guru dan staff
tata usaha yang terjadwal diluar rapat pertemuan khusus yang sifatnya
insidental, (2) disamping administrasi sekolah dilakukan secara manual juga
dikembangkan manajemen administrasi dengan pendekatan komputerisasi, menerapkan
usul kenaikan pangkat secara reguler maupun dengan menetapkan berdasarkan angka
kredit jabatan guru dapat diselesaikan tepat waktu. Setiap guru dan koordinator
tata usaha mendapat DP3 masing-masing tepat pada waktu disertai data pelengkap
penilaian atas pegawai yang bersangkutan.
Keenam, implementasi manajemen
perubahan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam
bidang keuangan yaitu menginvestasikan program/kegiatan sekolah selama satu tahun
mendatang, menyusun program/kegiatan tersebut berdasarkan jenis dan prioritas,
menghitung volume, harga satuan, dan kebutuhan dana untuk setiap komponen
kegiatan, membuat kertas kerja, menentukan sumber dana dan pembebanan anggaran,
serta menuangkannya kedalam format buku RAPBS, menghimpun data
pendukung yang akurat untuk bahan acuan guna mempertahankan anggaran yang
diajukan.
Ketujuh, implementasi manajemen
perubahan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam
bidang hubungan masyarakat yaitu (1) meningkatkan hubungan kekeluargaan dengan
mengembangkan tali persaudaraan antar sesama yang diwujudkan dalam
kegiatan-kegiatan sosial dan kegiatan kerohanian yang maksimal dalam satu tahun
lima kali, (2) meningkatkan yaitu hubungan dengan masyarakat umum yaitu dengan
cara ikut terlibat dalam kegiatan sosial yang ada dimasyarakat misalnya ikut
dalam kerja bakti membersihkan semak-semak yang mengganggu jalan raya, turut
menumbang moril maupun materil apabila ada musibah kematian.
Simpulan penelitian
menunjukkan bahwa Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Bengkulu Selatan telah
melakukan berbagai implementasi manajemen perubahan oleh kepala sekolah.
Perubahan yang dilakukan oleh kepala sekolah SMA Muhammmadiyah Bengkulu Selatan
lebih berfokus pada pengambilan keputusan dan kebijakan yang dilakukan kepala
sekolah, dan cara dalam manajemen kurikulum, manajemen kesiswaan, manajemen
sarana pendidikan, manajemen tenaga pendidik, manajemen keuangan dan manajemen
hubungan masyarakat yang diberlakukan disekolah.
Saran dari hasil penelitian ini yaitu
sebagai berikut Implementasi manajemen perubahan yang dilakukan oleh kepala
sekolah cukup bagus dan tidak begitu banyak
masalah besar yang ditemukan dalam manajemen sekolah. Saran-saran peneliti
sebagai berikut : 1) Implementasi manajemen perubahan yang dilakukan oleh
kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam bidang pengambilan
keputusan dipertahankan Karena proses dalam pengambilan keputusan melibatkan
semua pihak sehingga kebijakan dan keputusan yang diambil dapat dirasakan oleh
semua pihak yang ada disekolah marupakan kebijakan yang tepat untuk
dipertahankan. 2) Implementasi manajmen perubahan yang dilakukan oleh kepala
sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam bidang kurikulum agar proses
belajar mengajar berjalan dengan baik sebaiknya jika ada guru yang mengajar
tidak sesuai dengan kurikulum yang ada segera ditegur atau diberikan sanksi
agar guru tersebut tidak mengulanginya lagi. 3) Implementasi manajemen
perubahan yang dilakukan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan
dalam bidang kesiswaan meningkatkan kembali peran aktif siswa dalam kegiatan
IPM misalnya sering mengadakan turnamen antar sekolah yang diselengarakan disekolah.
4) Implementasi manajemen perubahan yang dilakukan oleh kepala sekolah SMA
Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam bidang sarana pendidikan sarana-sarana
pendukung agar dimanfaatkan semaksimal mungkin dan jika terdapat sarana yang
tidak terpakai agar dimanfaatkan sehingga terciptanya sarana pendukung yang
baik bagi warga sekolah. 5) Implementasi manajemen perubahan yang dilakukan
oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan
dalam bidang tenaga pendidik
meningkatkan kembali kualitas kerja agar kualitas sekolah menjadi lebih baik
lagi. 6) Impelemnetasi manajemen perubahan yang dilakukan oleh kepala sekolah
SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam bidang keuangan lebih meningkatkan
tranparansi proses keuangan sekolah agar terhindar dari hal-hal yang tidak
diinginkan. 7) Implementasi manajemen perubahan yang dilakukan oleh kepala
sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam bidang hubungan masyarakat
memperbanyak kegiatan yang bersifat kekeluargaan, mengingat sekolah SMA
Muhammadiyah Bengkulu Selatan adalah sekolah muslim alangkah baiknya pihak
sekolah memperbanyak melakukan kegiatan kerohanian misalnya mennyediakan
tempat, guru mengaji untuk masyarakat umum disekolah dengan jadwal yang
ditentukan pihak sekolah agar proses belajar mengajar tidak terganggu.
1)
Metode penelitian
Jenis penelitian ini
adalah jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif
kualitatif. Metode ini digunakan untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang
implementasi manajemen perubahan oleh kepala sekolah di SMA Muhammadiyah
Bengkulu Selatan secara objektif. Metode deskriptif bertujuan untuk
mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada,
mengidentifikasi masalah yang atau memelihara kondisi dan praktik-praktik yang
berlaku.
Penelitian ini
menggunakan data primer dan data skunder diperoleh dengan teknik observasi dan
teknik wawancara tentang unsur-unsur yang terdapat dalam paradigma penelitian
dengan kepala sekolah. Sedangkan data sekunder diperoleh dengan teknik
dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan.
Menurut (Sugiono,
2009:15), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat postpositifsime, digunakan untuk meneliti pada
kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti
adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sample sumber dan data dilakukan
secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan data dilakukan dengan
triangulasi (gabungan) analisis data bersifat induktif / kualitatif, dan hasil
penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna daripada generalisasi.
Menurut Aminudin (1990:
2) metode kualitatif merupakan jenis penelitian dimana perumusan masalah penelitian
bukan diarahakan oleh teori melainkan oleh gejala penelitian yang dihadapi
dilapangan. Untuk mempertahankan tingginya keabsahan data, maka sebelum
pelaksanaan pengumpulan data terlebih dahulu dilakkukan berbagai kesiapan,
terutama untuk mempersiapkan bentuk-bentuk dan jenis data yang dipergunakan.
Dengan kesiapan ini diharapkan dapat terjadi kesenjangan atau perbedaan cara
memperoleh data dari sumber yang satu dengan yang lain.
2)
Manfaat Penelitian
Penelitian
ini diharapkan memberikan
hasil yang dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan antara lain
:
a. Manfaat
Teoritis
1. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan manajemen
sekolah
2. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menambah konsep dari teori-teori tentang
manajemen sekolah
3. Sebagai
bahan masukan bagi kalangan akademis yang ingin melakukan penelitian lebih
lanjut yang berkaitan dengan manajemen sekolah
b. Manfaat
Praktis
1. Sebagai
masukan bagi seluruh komponen sekolah dalam inovasi manajemen sekolah
2. Sebagai
pedoman bagi sekolah-sekolah dalam inovasi manajemen sekolah.
3)
Hasil Penelitian
Hasil penelitian
implementasi manajemen perubahan oleh kepala sekolah di SMA Muhammadiyah
Bengkulu Selatan adalah sebagai berikut:
Kesatu, implementasi manajemen
perubahan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam
pengambilan kebijakan dan keputusan yaitu (1) pembuatan keputusan melibatkan
banyak pihak, seperti wakil-wakil kepala sekolah, guru, dan komite sekolah, (2)
pembuatan keputusan melalui gugus mutu terdiri dari guru-guru senior secara
keilmuan dan metodologi pembelajaran, anggota komite sekolah dari kalangan
pakar, tim pengendali manajemen pembelajaran, (3) keputusan sekolah secara
partisipatif.
Kedua, implementasi
manajemen perubahan oleh kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu
Selatan dalam bidang kurikulum yaitu (1) terdapat suatu program pembelajaran
yang sistematis dan realistis, setiap guru mata pelajaran menyusun parangkat
kegiatan belajar mengajar sebelum permulaan tahun pelajaran, setiap guru mata
pelajaran menjabarkan kurikulum yang saat ini diterapkan dan mampu merakit
dalam analisis materi pelajaran, setiap guru merencanakan tes hasil belajar
secara benar dan berdaya guna dalam rangka membantu siswa dan meningkatkan
sistem administrasinya, (2) kegiatan belajar mengajar sesuai dengan silabus
secara cepat dan efektif, karena dikerjakan oleh para guru sesuai dengan waktu
yang ditentukan oleh pihak sekolah(3) setiap guru mata pelajaran menyusun
perangkat tes yang sempurna, setiap guru mampu melaksanakan evaluasi sesuai
dengan petunjuk yang berlaku, (4) setiap guru mengadministrasikan semua
kegiatan kurikulum dengan baik dan sistematis.
Ketiga,
implementasi manajemen perubahan oleh
kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam bidang kesiswaan
yaitu (1) mempersiapkan sistem administrasi dengan menggunkan komputerisasi
yang meliputi beberapa kegiatan bidang kesiswaan antara lain : sistem
persiapan/persuratan, pencatatan buku induk siswa, pencatatan buku induk
pegawai, pengisisan buku mutasi siswa administrasi PSB, administrasi ujian
nasional, administrasi nilai/legger, laporan (PSB, ujian nasional, kenaikan
kelas, keberhasilan siswa), (2) meningkatkan peran serta siswa untuk menjaga
dan membina sekolah sebagai wiyata mandala, sehingga terhindar dari usaha
pengaruh yang bertentangan dengan norma yang berlaku, meningkatkan kegiatan
ekstrakulikuler dalam menunjang kegiatan kurikuler, meningkatkan apresiasi dan
penghayatan seni, menumbuhkan sikap berbangsa dan bernegara dan mengembangkan
semangat 1945.
Keempat,
implementasi manajemen perubahan oleh
kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam bidang sarana
pendidikan yaitu (1) perangkat KBM difungsikan dan didayagunakan sesuai dengan
program yang direncanakan, (2) saran pendukung dimanfaatkan dengan
memaksimalkan sarana yang ada seperti wc guru/siswa dengan dibersihkan setiap
hari oleh siswa dengan pengaturan jadwal piket atau dibersihkan siswa yang
datang terlambat sebagai hukumannya, (3) pencatatan aset berupa sarana dan
prasarana pendidikan pada SMA Muhammadiya Bengkulu Selatan dengan cara
memberikan kode barang, pencatatan dalam buku golongan, pencatatan dalam buku
inventaris barang dan pem,belian aset.
Kelima,
implementasi manajemen perubahan oleh
kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam bidang tenaga
pendidik yaitu (1) mengembangkan kesadaran akan tugas dan tanggung jawab guru
dengan cara setiap satu bulan sekali dilaksanakan rapat koordinasi antara
kepala sekolah, wakil-wakil kepala sekolah, guru dan staff tata usaha yang
terjadwal diluar rapat pertemuan khusus yang sifatnya insidental, (2) disamping
administrasi sekolah dilakukan secara manual juga dikembangkan manajemen
administrasi dengan pendekatan komputerisasi, menerapkan usul kenaikan pangkat
secara reguler maupun dengan menetapkan berdasarkan angka kredit jabatan guru
dapat diselesaikan tepat waktu. Setiap guru dan koordinator tata usaha mendapat
DP3 masing-masing tepat pada waktu disertai data pelengkap penilaian atas pegawai
yang bersangkutan.
Keenam,
implementasi manajemen perubahan oleh
kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam bidang keuangan
yaitu menginvestasikan program/kegiatan sekolah selama satu tahun mendatang,
menyusun program/kegiatan tersebut berdasarkan jenis dan prioritas, menghitung
volume, harga satuan, dan kebutuhan dana untuk setiap komponen kegiatan,
membuat kertas kerja, menentukan sumber dana dan pembebanan anggaran, serta
menuangkannya kedalam format buku RAPBS, menghimpun data pendukung yang akurat
untuk bahan acuan guna mempertahankan anggaran yang diajukan.
Ketujuh,
implementasi manajemen perubahan oleh
kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bengkulu Selatan dalam bidang hubungan
masyarakat yaitu (1) meningkatkan hubungan kekeluargaan dengan mengembangkan
tali persaudaraan antar sesama yang diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan sosial
dan kegiatan kerohanian yang maksimal dalam satu tahun lima kali, (2)
meningkatkan yaitu hubungan dengan masyarakat umum yaitu dengan cara ikut
terlibat dalam kegiatan sosial yang ada dimasyarakat misalnya ikut dalam kerja
bakti membersihkan semak-semak yang mengganggu jalan raya, turut menumbang
moril maupun materil apabila ada musibah kematian.
4)
Sistematika
1.
Bagian awal tesis terdiri dari halaman judul, halaman
pengesahan, halaman motto dan persembahan, sari, kata pengantar, daftar
isi,daftar gambar, daftar tabel, dan daftar lampiran.
2.
Bagian isi skripsi terdiri dari lima bab yaitu:
–
BAB I : Pendahuluan, dalam hal ini penulis menguraikan
tentang latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat penelitian, penegasan
istilah, dan sistematika skripsi.
–
BAB II : Kajian pustaka, yaitu bab yang menguraikan tentang
kajian pustaka baik dari buku-buku ilmiah, maupun sumber-sumber lain yang mendukung
penelitian ini.
–
BAB III : Metodologi penelitian, yaitu bab yang menguraikan
tentang objek penelitian, variabel, metode penelitian, metode pengumpulan data,
dan metode analisis data.
–
BAB IV : Hasil penelitian dan pembahasan, yaitu bab yang
menguraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan dari data yang telah
diperoleh.
–
BAB V : Simpulan, Implikasi dan saran, yaitu bab yang berisi
simpulan hasil dan saran serta hasil penelitian.
3.
Bagian akhir skripsi: terdiri dari daftar pustaka dan
lampiran.
5)
Kesimpulan
Simpulan
penelitian menunjukkan bahwa Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah Bengkulu
Selatan telah melakukan berbagai implementasi manajemen perubahan oleh kepala
sekolah. Perubahan yang dilakukan oleh kepala sekolah SMA Muhammmadiyah
Bengkulu Selatan lebih berfokus pada pengambilan keputusan dan kebijakan yang
dilakukan kepala sekolah, dan cara dalam manajemen kurikulum, manajemen
kesiswaan, manajemen sarana pendidikan, manajemen tenaga pendidik, manajemen
keuangan dan manajemen hubungan masyarakat yang diberlakukan disekolah.
Langganan:
Postingan (Atom)