Kasih Sayang Itu Masih Ada
“Tenot-tenot-tenot”
dering jam weker memaksaku untuk bangun tetapi tetap saja aku tak beranjak dari
tempat tidurku yang seolah memelukku erat.
“Bangun Non, nanti telat berangkat
sekolahnya, Pak jubir sudah menunggu di depan.” bujuk Bibi membangunkanku. Bibi
sudah hadir di keluargaku sejak aku masih belajar merangkak. Ya, Bibiku sudah
lama merawatku. Bahkan Bibi lebih banyak menyentuhku dibanding mamaku sendiri. “Apa mungkin aku sebenarnya adalah anak bibi?”
usikku dalam batin.
Seperti biasa aku
bergegas menyiapkan diri berangkat sekolah. Memulai pagi dengan rasa yang sama.
Rasa sendiri. Ya, aku anak tunggal dan orang tuaku sudah berangkat kerja senja
tadi sebelum aku membuka mata. Aku bersekolah di salah satu sekolah elite di
tempatku tinggal. Hidupku yang sangat amat berkecukupan membuatku seolah
bahagia tapi ternyata sebaliknya. Aku merasa sendiri dalam hingar-bingar keramaian
ini.
“Bagaimana sekolah hari
ini, Non?” sapa pak jubir yang seperti biasa menjemputku sepulang sekolah tiba.
“yaaa begitulah pak.” Ujarku tak ada gairah. “lagi-lagi pak jubir yang
bertanya.” Gumamku kesal. Sepanjang perjalanan aku melamun. Lamunanku tersentak
ketika melihat anak sebayaku sedang asik bercengkerama dengan kedua orang
tuanya, bersenda gurau membicarakan hal yang konyol, atau bahkan melakukan hal
bodoh bersama. “aaaaahhhhhh” teriakku tanpa makna.
Malam
ini, lagi-lagi seperti biasa, aku menunggu kehadiran orang tuaku agar biasa
menyantap hidangan makan malam bersama. Dan lagi-lagi aku menunggu hingga
tertidur. Selalu seperti ini tiap harinya. Tak ada hari libur bagi kedua orang
tuaku. Aku tak mengerti apa yang masih mereka cari. Hidup seperti sekarang
kurasa sudah cukup. Aku ingat terakhir kami pergi liburan itu ketika aku
menginjak umur 12 tahun dan sekarang aku berumur 17 tahun. Sudah 5 tahun aku
merasa hidup seperti hewan peliharaan. Ironis memang.
Sampai
suatu ketika aku brontak aku ngamuk segala isi rumah berserakan. Bibi tercengang
dan Pak Jubir tak mampu berkata. Aku marah. Aku kesal. Aku muak dengan panggung
sandiwara ini. Entah apa yang ada di benakku rasanya aku ingin akhiri saja
hidupku.. Sampai akhirnya bibi memintaku tenang dan dengan seluruh tenaga dia
memelukku erat. “Non tenang non, istighfar non” ujar bibi menenangkanku. “as..tagfirullah..haladzim..”ucapku
terbatah-batah sesenggukan dalam derai. Setelah semua tenang, Bibi menjelaskan semua
padaku.
“Non,
Non tau kenapa semuanya kaya gini? ini bermula saat 5 tahun yang lalu, orang
tua non terlilit hutang yang cukup banyak sehingga membuat orang tua non
melakukan semua seperti sekarang ini, banting tulang, kerja keras, semua yang
mereka lakukan untuk Non, untuk mebiayai hidup ini. Bibi tau apa yang Non
rasain, tapi cobalah untuk bersabar dan memahami.” Bibi terdiam. “ iya aku
paham bi.. maafkan aku.”
“Vanesha…
Vanesha mama papah pulang…. Echaa echaaa.” Teriak mama papaku dari luar rumah. Sungguh
kebetulan mama papaku pulang cepat dihari itu. Mama papaku pun tercengan melihat
keadaan rumah namun setelah semuanya diceritakan oleh Bibi mereka pun memaklumi
dan menyadari apa yang telah mereka lakukan selama ini sudah berlebihan dan
membuatku kecewa. Kami pun berpelukan. Aku senang tiada tara seolah baru
mendapatkan ASI pertama saat itu. Kami bercengkerama, bercerita, bersenda gurau
tepat seperti apa yang aku inginkan. Semua kembali seperti yang diinginkan. Orang
tuaku sudah terbebas dari hutang-hutangnya. Dan aku pun menyadari bahwa
tindakan yang aku lakukan salah. Seharusnya aku bisa lebih bersyukur, bersabar
serta memahami yang telah terjadi.
Minggu, 1 November 2015
Cerpen dibuat oleh Sarah Ika Fajriani
Cerpen ini hanya fiktif belaka. Muncul dari
imajinasi liar, keresahan jiwa, serta keprihatinan. Dengan unsur gaya bahasa
yang hiperbola untuk menunjang cerpen yang menarik.
Pesan:
yang terjadi di dunia ini ada sebab dan alasan. Apa yang kita jalanin adalah
cerminan diri kita sendiri. Rasa bahagia muncul dari kita senidri. Rasa bahagia
muncul dari rasa syukur. Jadilah diri yang bijak. Menyikapi semua dengan bijak.
Bersyukurlah kamu agar bahagia. Bukanlah bersyukur karna bahagia. dan rasa itu
yang selalu aku tanamkan untuk diriku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar