Minggu, 01 November 2015

Ilmu Budaya Dasar (Paper 6)

Cerpen tentang kasih sayang


Kasih Sayang Itu Masih Ada

“Tenot-tenot-tenot” dering jam weker memaksaku untuk bangun tetapi tetap saja aku tak beranjak dari tempat tidurku yang seolah memelukku erat.
“Bangun Non, nanti telat berangkat sekolahnya, Pak jubir sudah menunggu di depan.” bujuk Bibi membangunkanku. Bibi sudah hadir di keluargaku sejak aku masih belajar merangkak. Ya, Bibiku sudah lama merawatku. Bahkan Bibi lebih banyak menyentuhku dibanding mamaku sendiri.  “Apa mungkin aku sebenarnya adalah anak bibi?” usikku dalam batin.
Seperti biasa aku bergegas menyiapkan diri berangkat sekolah. Memulai pagi dengan rasa yang sama. Rasa sendiri. Ya, aku anak tunggal dan orang tuaku sudah berangkat kerja senja tadi sebelum aku membuka mata. Aku bersekolah di salah satu sekolah elite di tempatku tinggal. Hidupku yang sangat amat berkecukupan membuatku seolah bahagia tapi ternyata sebaliknya. Aku merasa sendiri dalam hingar-bingar keramaian ini.
“Bagaimana sekolah hari ini, Non?” sapa pak jubir yang seperti biasa menjemputku sepulang sekolah tiba. “yaaa begitulah pak.” Ujarku tak ada gairah. “lagi-lagi pak jubir yang bertanya.” Gumamku kesal. Sepanjang perjalanan aku melamun. Lamunanku tersentak ketika melihat anak sebayaku sedang asik bercengkerama dengan kedua orang tuanya, bersenda gurau membicarakan hal yang konyol, atau bahkan melakukan hal bodoh bersama. “aaaaahhhhhh” teriakku tanpa makna.
            Malam ini, lagi-lagi seperti biasa, aku menunggu kehadiran orang tuaku agar biasa menyantap hidangan makan malam bersama. Dan lagi-lagi aku menunggu hingga tertidur. Selalu seperti ini tiap harinya. Tak ada hari libur bagi kedua orang tuaku. Aku tak mengerti apa yang masih mereka cari. Hidup seperti sekarang kurasa sudah cukup. Aku ingat terakhir kami pergi liburan itu ketika aku menginjak umur 12 tahun dan sekarang aku berumur 17 tahun. Sudah 5 tahun aku merasa hidup seperti hewan peliharaan. Ironis memang.
            Sampai suatu ketika aku brontak aku ngamuk segala isi rumah berserakan. Bibi tercengang dan Pak Jubir tak mampu berkata. Aku marah. Aku kesal. Aku muak dengan panggung sandiwara ini. Entah apa yang ada di benakku rasanya aku ingin akhiri saja hidupku.. Sampai akhirnya bibi memintaku tenang dan dengan seluruh tenaga dia memelukku erat. “Non tenang non, istighfar non” ujar bibi menenangkanku. “as..tagfirullah..haladzim..”ucapku terbatah-batah sesenggukan dalam derai. Setelah semua tenang, Bibi menjelaskan semua padaku.
            “Non, Non tau kenapa semuanya kaya gini? ini bermula saat 5 tahun yang lalu, orang tua non terlilit hutang yang cukup banyak sehingga membuat orang tua non melakukan semua seperti sekarang ini, banting tulang, kerja keras, semua yang mereka lakukan untuk Non, untuk mebiayai hidup ini. Bibi tau apa yang Non rasain, tapi cobalah untuk bersabar dan memahami.” Bibi terdiam. “ iya aku paham bi.. maafkan aku.”
            “Vanesha… Vanesha mama papah pulang…. Echaa echaaa.” Teriak mama papaku dari luar rumah. Sungguh kebetulan mama papaku pulang cepat dihari itu. Mama papaku pun tercengan melihat keadaan rumah namun setelah semuanya diceritakan oleh Bibi mereka pun memaklumi dan menyadari apa yang telah mereka lakukan selama ini sudah berlebihan dan membuatku kecewa. Kami pun berpelukan. Aku senang tiada tara seolah baru mendapatkan ASI pertama saat itu. Kami bercengkerama, bercerita, bersenda gurau tepat seperti apa yang aku inginkan. Semua kembali seperti yang diinginkan. Orang tuaku sudah terbebas dari hutang-hutangnya. Dan aku pun menyadari bahwa tindakan yang aku lakukan salah. Seharusnya aku bisa lebih bersyukur, bersabar serta memahami yang telah terjadi.


Minggu, 1 November 2015
Cerpen dibuat oleh Sarah Ika Fajriani
Cerpen ini hanya fiktif belaka. Muncul dari imajinasi liar, keresahan jiwa, serta keprihatinan. Dengan unsur gaya bahasa yang hiperbola untuk menunjang cerpen yang menarik.

Pesan: yang terjadi di dunia ini ada sebab dan alasan. Apa yang kita jalanin adalah cerminan diri kita sendiri. Rasa bahagia muncul dari kita senidri. Rasa bahagia muncul dari rasa syukur. Jadilah diri yang bijak. Menyikapi semua dengan bijak. Bersyukurlah kamu agar bahagia. Bukanlah bersyukur karna bahagia. dan rasa itu yang selalu aku tanamkan untuk diriku sendiri.

                                                                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar